Postingan

Menampilkan postingan dengan label terapi okupasi

Cemas Sama Tumbuh Kembang Anak? Yuk, Coba Skrining Awal Autisme di Rumah!

Hai Bun, Moms... Pernah nggak sih, hati terasa was-was melihat tumbuh kembang si kecil? Membandingkan dengan anak lain memang nggak disarankan, tapi naluri seorang ibu seringkali kuat. Kita merasa ada sesuatu yang "berbeda", tapi bingung harus mulai dari mana. Rasanya mau ke dokter tapi takut, didiamkan tapi khawatir. Kalau kamu ada di posisi ini, tarik napas dulu. Rasa cemasmu itu valid. Dan yang terpenting, ada sebuah langkah pertama yang bisa kamu lakukan sendiri di rumah untuk mengubah kekhawatiran itu menjadi sebuah data awal yang terstruktur. Gimana caranya? Kenalan yuk sama M-CHAT-R/F™ , sebuah kuesioner skrining yang bisa kamu akses di web anaktangguh.com . Tunggu Dulu, Apa Sih M-CHAT-R/F™ Itu? Oke, jangan pusing sama namanya ya. Anggap saja ini adalah sebuah kuesioner sederhana yang dirancang khusus oleh para ahli. Kepanjangannya adalah Modified Checklist for Autism in Toddlers, Revised, with Follow-Up . Intinya, ini adalah alat skrining yang sudah teruji secara il...

Telat bicara pada usia 2tahun, apa yang harus dilakukan?

Wajar sekali jika Bunda atau Ayah merasa khawatir saat anak usia 2 tahun bicaranya belum selancar teman-temannya. Kabar baiknya, usia ini adalah periode emas (golden period) untuk intervensi. Jadi, tindakan yang tepat sekarang bisa memberikan hasil yang sangat signifikan. Melihat sekarang sudah larut malam, ada dua hal yang bisa kita pilah: apa yang bisa langsung dilakukan di rumah mulai besok , dan langkah penting apa yang harus segera diambil dalam minggu ini. Normalnya Anak Usia 2 Tahun (24 bulan) Bisa Apa Aja Sih? Sebelum panik, kita samakan dulu persepsinya. Ini beberapa patokan (milestones) bicara anak usia 2 tahun: Kosakata: Sudah punya sekitar 50-100 kata atau lebih. Menggabungkan Kata: Mulai bisa merangkai 2 kata menjadi frasa sederhana, seperti "mau mamam," "susu lagi," atau "mobil ayah." Mengikuti Perintah: Paham dan bisa mengikuti perintah 2 langkah sederhana, contohnya "ambil bolanya, terus kasih ke bunda." Menunjuk: Aktif menun...

Speech Delay Bukan Autis

  1. "Telat bicara ( Speech Delay ) BUKAN BERARTI autis." Ini adalah poin yang paling penting untuk dipahami semua orang tua. Keterlambatan bicara adalah sebuah gejala , bukan diagnosis akhir. Gejala ini bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti: Gangguan pendengaran: Anak tidak bisa meniru suara jika tidak mendengarnya dengan jelas. Masalah oral-motor: Kelemahan pada otot di sekitar mulut yang membuatnya sulit untuk berbicara. Kurangnya stimulasi: Anak jarang diajak berkomunikasi dua arah. Developmental Language Disorder (DLD): Gangguan spesifik pada pemrosesan bahasa di otak. Dan banyak kemungkinan lainnya. Jadi, ketika seorang anak telat bicara, autisme hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang perlu dievaluasi oleh profesional. 2. "Autis TIDAK SELALU telat bicara  ( Speech Delay ) ." Ini juga sangat akurat. Ingat, namanya adalah Autism Spectrum Disorder (ASD) . Kata "spektrum" berarti gejalanya sangat luas dan bervariasi dari satu indi...

Sebuah Harapan Suci: Mengenal-Nya di Hari Akhir

Gambar
Ada kalanya, sepotong nasihat atau untaian kata mampu menyentuh relung hati terdalam, menggetarkan jiwa, bahkan tanpa sadar meneteskan air mata. Begitulah yang saya rasakan ketika mendengarkan perkataan Ustadz Oemar Mita tentang hisab di akhirat bagi golongan hamba-Nya yang memiliki keterbatasan akal. Beliau menyampaikan sebuah harapan yang begitu menenangkan: "Hisabnya itu tidak dihisab atas salat, tidak dihisab atas aurat, tidak dihisab atas puasa. Mereka cuma ditanya pertanyaan sederhana, ‘Kamu mengenal saya tidak?’ kata Allah. ‘Kami kenal Engkau, Ya Allah,’ dimasukkan oleh Allah ke surga.” Mendengar kalimat itu, entah mengapa, air mata ini tiba-tiba menetes. Ada rasa haru yang tak terkira, sebuah lega yang membanjiri sanubari. Namun, seiring dengan keharuan itu, muncul pula sebuah kegelisahan, sebuah ketakutan yang merayap di hati: "Besok Fariz, anak saya, bakalan jawab apa ya kalau ditanya Allah begitu?" Mengapa Air Mata Itu Menetes? Pemahaman kita tentang hisab ser...

Mengapa Psikolog dan Terapis menyarankan Anak Autis untuk Diet?

Gambar
Adanya jawaban yang berbeda dari profesional antara dokter dan terapis adalah salah satu tantangan terbesar bagi orang tua anak dengan autisme. Jawaban "iya, harus diet" dari psikolog dan terapis yang menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak berarti jawaban dokter sebelumnya salah. Ini menunjukkan bahwa mereka melihat anak dari sudut pandang dan prioritas yang berbeda . Mari kita bedah mengapa psikolog dan terapis seringkali memiliki pandangan seperti ini: 1. Fokus Utama pada Perilaku dan Kemampuan Belajar Fokus utama seorang psikolog atau terapis adalah perilaku, fungsi sensorik, dan kemampuan anak untuk fokus dan belajar dalam sesi terapi . Mereka mengamati secara langsung bagaimana kondisi anak dari hari ke hari memengaruhi kemampuannya untuk menerima pelajaran. Dari sudut pandang mereka: Jika seorang anak tampak lebih hiperaktif, sulit fokus, atau rewel setelah mengonsumsi makanan tertentu, mereka akan melihat makanan itu sebagai penghalang kemajuan terapi . Tujuan ...

Kenapa sebagian besar dokter Anak tidak menyarankan untuk diet bagi anak autis?

Penting untuk dipahami bahwa sikap dokter ini bukan karena tidak peduli, tetapi justru didasari oleh prinsip kehati-hatian medis, bukti ilmiah, dan pertimbangan kesejahteraan anak secara menyeluruh. Berikut adalah alasan-alasan utamanya: 1. Bukti Ilmiah yang Lemah dan Tidak Konsisten Ini adalah alasan paling utama. Dalam dunia kedokteran, sebuah terapi atau intervensi baru akan direkomendasikan secara luas jika sudah terbukti efektif melalui penelitian berskala besar, acak, dan terkontrol (di mana ada kelompok yang diet dan ada kelompok plasebo/kontrol). Studi yang Ada: Banyak penelitian tentang diet GFCF pada anak autis berskala kecil, tidak memiliki kelompok kontrol yang memadai, dan seringkali hasilnya hanya berdasarkan laporan subjektif dari orang tua. Hasil yang Bertentangan: Beberapa studi menunjukkan sedikit perbaikan pada sebagian kecil anak, namun lebih banyak lagi penelitian berkualitas tinggi yang tidak menemukan perbedaan signifikan antara anak yang diet GFCF dengan yang ...