Postingan

Karena Allah?

  "Karena Allah ya, Bu?" Jawaban Si Kecil yang Menampar Sekaligus Menyadarkan Menjadi orang tua itu seperti masuk ke sekolah kehidupan yang kurikulumnya selalu penuh kejutan. Gurunya? Anak kita sendiri. Kadang, mereka melempar pertanyaan-pertanyaan polos yang jawabannya ternyata jauh lebih dalam dari yang kita kira. Seperti yang terjadi padaku beberapa hari lalu. Di tengah waktu santai, Fizhan tiba-tiba menatapku dengan mata bulatnya dan bertanya: "Ibu, kenapa sayang sama Fizhan?" Seketika otakku berhenti bekerja. Ngapain sih ini anak nanya ginian? batinku. Bukankah sudah jelas aku mencintainya tanpa syarat, tanpa alasan, pokoknya default setting seorang ibu? Hehe. Aku cuma bisa meringis sambil memutar otak, mencari jawaban yang pas untuk anak sekecil dia. Namun, belum sempat satu kata pun keluar dari mulutku, dia sudah menjawab pertanyaannya sendiri. "Karena Allah ya, Bu?" JLEB. Aku terdiam. Entah dari mana anak ini mendapatkan jawaban sedalam itu. Mung...

Children see, children do

Kalau ada piala untuk "Ibu Paling Bucin Sama Anak", mungkin aku salah satu nominasinya. Rasanya hampir tiap detik mulut ini nggak berhenti merapal kalimat sayang. "Fizhan sayang, anak sholihnya ibu, ibu sayang banget sama Fizhan." "Mas Fariz, pinter, anak sholih, jagoannya ibu, ibu sayang mas Fariz." Begitulah mantranya setiap hari. Buatku, afirmasi positif itu penting, dan aku ingin anak-anakku selalu tahu betapa berharganya mereka. Sampai suatu hari, mantra itu diuji langsung oleh keadaan. Saat itu aku sedang fokus membalas beberapa WhatsApp terkait pekerjaan di HP. Tiba-tiba, Mas Fariz datang dan langsung merebut HP dari tanganku. Karena kaget dan dikejar deadline , nada bicaraku refleks naik satu oktaf. "Ibu balesin WA dulu, Fariz! Nanti boleh pegang HP-nya lagi!" kataku dengan suara yang agak keras. Sedikit konteks, Fariz, anak pertamaku, adalah seorang anak autis yang istimewa. Buatnya, mengambil barang seperti HP, remot AC, atau bahkan pen...

Cemas Sama Tumbuh Kembang Anak? Yuk, Coba Skrining Awal Autisme di Rumah!

Hai Bun, Moms... Pernah nggak sih, hati terasa was-was melihat tumbuh kembang si kecil? Membandingkan dengan anak lain memang nggak disarankan, tapi naluri seorang ibu seringkali kuat. Kita merasa ada sesuatu yang "berbeda", tapi bingung harus mulai dari mana. Rasanya mau ke dokter tapi takut, didiamkan tapi khawatir. Kalau kamu ada di posisi ini, tarik napas dulu. Rasa cemasmu itu valid. Dan yang terpenting, ada sebuah langkah pertama yang bisa kamu lakukan sendiri di rumah untuk mengubah kekhawatiran itu menjadi sebuah data awal yang terstruktur. Gimana caranya? Kenalan yuk sama M-CHAT-R/F™ , sebuah kuesioner skrining yang bisa kamu akses di web anaktangguh.com . Tunggu Dulu, Apa Sih M-CHAT-R/F™ Itu? Oke, jangan pusing sama namanya ya. Anggap saja ini adalah sebuah kuesioner sederhana yang dirancang khusus oleh para ahli. Kepanjangannya adalah Modified Checklist for Autism in Toddlers, Revised, with Follow-Up . Intinya, ini adalah alat skrining yang sudah teruji secara il...

Telat bicara pada usia 2tahun, apa yang harus dilakukan?

Wajar sekali jika Bunda atau Ayah merasa khawatir saat anak usia 2 tahun bicaranya belum selancar teman-temannya. Kabar baiknya, usia ini adalah periode emas (golden period) untuk intervensi. Jadi, tindakan yang tepat sekarang bisa memberikan hasil yang sangat signifikan. Melihat sekarang sudah larut malam, ada dua hal yang bisa kita pilah: apa yang bisa langsung dilakukan di rumah mulai besok , dan langkah penting apa yang harus segera diambil dalam minggu ini. Normalnya Anak Usia 2 Tahun (24 bulan) Bisa Apa Aja Sih? Sebelum panik, kita samakan dulu persepsinya. Ini beberapa patokan (milestones) bicara anak usia 2 tahun: Kosakata: Sudah punya sekitar 50-100 kata atau lebih. Menggabungkan Kata: Mulai bisa merangkai 2 kata menjadi frasa sederhana, seperti "mau mamam," "susu lagi," atau "mobil ayah." Mengikuti Perintah: Paham dan bisa mengikuti perintah 2 langkah sederhana, contohnya "ambil bolanya, terus kasih ke bunda." Menunjuk: Aktif menun...

Speech Delay Bukan Autis

  1. "Telat bicara ( Speech Delay ) BUKAN BERARTI autis." Ini adalah poin yang paling penting untuk dipahami semua orang tua. Keterlambatan bicara adalah sebuah gejala , bukan diagnosis akhir. Gejala ini bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti: Gangguan pendengaran: Anak tidak bisa meniru suara jika tidak mendengarnya dengan jelas. Masalah oral-motor: Kelemahan pada otot di sekitar mulut yang membuatnya sulit untuk berbicara. Kurangnya stimulasi: Anak jarang diajak berkomunikasi dua arah. Developmental Language Disorder (DLD): Gangguan spesifik pada pemrosesan bahasa di otak. Dan banyak kemungkinan lainnya. Jadi, ketika seorang anak telat bicara, autisme hanyalah salah satu dari sekian banyak kemungkinan yang perlu dievaluasi oleh profesional. 2. "Autis TIDAK SELALU telat bicara  ( Speech Delay ) ." Ini juga sangat akurat. Ingat, namanya adalah Autism Spectrum Disorder (ASD) . Kata "spektrum" berarti gejalanya sangat luas dan bervariasi dari satu indi...

Anakku Kok Beda, Ya? Plis, Jangan Main 'Dokter-dokteran' Sendiri, Bun!

Hai Moms, hai Bun... Pernah nggak sih, malam-malam pas lagi scrolling medsos, eh, nemu postingan soal tumbuh kembang anak? Terus jadi kepikiran, "Lho, kok anakku belum bisa ini, ya?" atau "Duh, gejalanya kok mirip sama anakku?" Dari situ, mulailah kita masuk ke lubang kelinci: googling gejala, nonton video sana-sini, sampai akhirnya kita bikin kesimpulan sendiri di kepala. "Jangan-jangan anakku autis," atau "Fix, ini pasti ADHD." STOP! Tarik napas dulu, Bun. Pliiis , aku mohon banget, hati-hati ya. Jangan buru-buru pasang label ke anak kita sendiri. Aku sering banget denger cerita, ada orang tua yang udah yakin banget anaknya autis karena telat bicara. Mereka panik, cemas luar biasa. Setelah diperiksakan ke ahlinya, ternyata "hanya" speech delay biasa yang butuh stimulasi dan terapi wicara, nggak sampai ke spektrum autisme. Beda, kan? Penanganannya pun beda. Makanya, self-diagnosis itu lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Kal...

Byeee wadah kesayangan, Tupp*rwar*

Beberapa waktu lalu, ada berita yang lumayan bikin heboh dunia per-emak-an dan per-dapur-an se-Indonesia. Siapa lagi kalau bukan soal pabrik Tupp*rwar* yang resmi tutup di sini. Tupperware dan beberapa anak usahanya menyatakan bangkrut dengan melayangkan Chapter 11 yakni permohonan perlindungan kebangkrutan pada Selasa, 16 September 2024. Langkah ini diambil setelah berkurangnya permintaan produk-produk Tupperware oleh pasar dan kerugian finansial yang membengkak. Jujur, pas pertama kali dengar, ada rasa campur aduk. Sedikit kaget, sedikit sedih, dan banyak banget nostalgia yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Ingat kan gimana "sakral"-nya Tupperware di rumah? Wadah punya ibu yang kalau hilang bisa bikin seisi rumah interogasi. Botol minum andalan yang rasanya lebih adem kalau diisi air es. Momen di mana kita nyebut semua kotak bekal plastik dengan nama "Tupperware", padahal mereknya entah apa. 😂 Brand itu bukan cuma sekadar plastik, tapi udah jadi bagian dari kenan...