Dari Nugget Homemade, Ebook, Sampai Harga Telur
Produk homemade itu memang harusnya lebih mahal sih dari produk pabrikan.
Kenapa? Karena ya bikinnya aja satu-satu banget, biasanya pakai tenaga manual.
Kita ambil contoh gampang aja, nugget ayam rumahan.
Bahan: Udah pasti lebih "ndaging". Komposisi dagingnya jelas lebih banyak daripada tepungnya. Bahkan kadang ada yang nggak pakai tepung sama sekali. Beda sama buatan pabrik yang kadang kita nggak yakin itu daging ayam atau "rasa" ayam.
Proses: Nggiling dagingnya pakai apa? Paling banter chopper atau blender biasa. Kalau pesanannya lagi banyak, bisa nge-blender berkali-kali. Jelas biaya listrik bisa beda. Mungkin ada yang pakai mesin, tapi ya mesin skala rumahan, bukan mesin raksasa pabrik.
Tenaga: Ngebentuknya satu-satu pakai tangan. Nggak pakai alat cetak otomatis yang sekali jalan langsung jadi seribu biji. Tenaga yang dipakai buat ngulenin dan ngebentuk ini masa nggak dihargai?
Jadi, jelas banget 'kan kenapa harganya lebih mahal daripada makanan UPF (Ultra-Processed Food).
Nah, Ternyata Ini Nggak Cuma Berlaku di Makanan. Logika yang sama juga berlaku untuk barang lain, kayak deterjen homemade, dan yang paling bikin aku galau akhir-akhir ini: Ebook dan Worksheet.
Jujur, sampai hari ini aku masih heran lihat orang jualan worksheet atau ebook yang harganya bisa murah-murah banget.
Ini tuh aku lagi curhat sekaligus nanya, deh. Gimana caranya?
"Kan gampang, tinggal pakai ChatGPT," mungkin ada yang bilang gitu.
Oh, tentu tidak semudah itu, Ferguso.
Bahkan dengan bantuan AI pun, prosesnya tetap panjang. Belum mikirin editnya, desainnya di Canva (yang kalau mau beda dari orang lain ya harus bikin dari nol, nggak cuma ganti tulisan di template).
Kadang aku dilema sendiri. Pengen jual murah biar yang beli banyak. Pengen kasih hak jual kembali biar makin laris. Tapi... kok nggak rela, ya?
Waktu yang harusnya bisa buat nyapu, nyuci baju, atau beberes rumah, habiiiis cuma buat nyusun satu ebook.
Aku bikin ebook nutrisi untuk anak autis atau soal diet rotasi eliminasi, itu Masya Allah. Nulis dan ngeditnya bisa seminggu nggak kelar-kelar. Harus riset baca-baca jurnal dulu, dicocokin sama pengalaman pribadi, ngedit, baru desain.
Terus mau dijual harga murah? Aduuuuh, rasanya nggak rela.
Apalagi kalau ingat, kan akyu juga pengen punya duit banyak buat daftar haji furoda (Aamiin!), atau minimal umrah dulu lah. Hehe.
"Terus, Pakai ChatGPT Nggak?"
Oh, tentu masih pakai. Bohong kalau bilang enggak.
Biasanya aku pakai buat brainstorming nentuin judul yang cocok, cari referensi jurnal yang sesuai, atau sekadar bikin daftar nama hewan dan sayuran biar nggak ada yang kelewat.
Tapi seringnya, draf dari GPT itu ya nggak kepake utuh. Bahasanya kaku, nggak "aku" banget. Jadi, tetap aja harus ditulis ulang dan diedit total. Dan proses itu, tetep aja, LAMA BANGET.
Dilema "In This Economy"
Di satu sisi, pengen pasang harga yang sepadan sama usaha. Mau diturunin harganya kok ya, inget ngeditnya aja bisa 2 jaman sendiri, belum risetnya.
Di sisi lain, in this economy... orang-orang mungkin lagi banyak yang lebih butuh makan daripada beli ebook. Mana harga telur sekarang udah tembus 30 ribuan sekilo. (Kan, jadi bahas telur lagi).
Makin inget harga telur 30 ribu, makin nggak rela aku nurunin harga ebook. Lho? Kok jadi ke situ.
Yaa begitulah. Pembahasan ini yang awalnya ngomongin nugget, jadi nyasar ke ebook dan harga telur.
Intinya sih, di balik setiap produk homemade—mau itu nugget, deterjen, atau ebook—ada waktu, tenaga, pikiran, dan biaya listrik yang nggak kelihatan. Ada jam-jam yang seharusnya bisa dipakai buat istirahat atau main sama anak, tapi dipakai buat berkarya.
Jadi, kalau kamu menemukan produk homemade yang harganya sedikit lebih "mahal", percayalah, itu mungkin harga yang paling pantas untuk sebuah karya yang dibuat satu-satu.
Komentar
Posting Komentar